Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan

24 Sep 2014

Kali ini sepiring donat yang tersaji di hadapanku.
Lagi-lagi bocah itu terlambat.
Kali ini hampir dua setengah jam lamanya.
Beberapa kali pelayan yang cantik-cantik itu mendelik ke arahku.
Mungkin dipikirnya aku hanya menumpang mencari wi-fi gratis selama berjam-jam dengan hanya mengonsumsi dua buah donat yang harga satuannya delapan ribu lima ratus rupiah?

Sudah lima pesan singkat berstatus "Terkirim" sampai ke nomor ponselnya, tidak ada satupun jawaban dari bocah bandel itu.
Sudah belasan kali aku menoleh ke pintu masuk ketika ada sapaan "Selamat datang!" dari pegawai yang stand by  di pintu masuk.
Bahkan supervisor di ujung ruangan sudah mewawancarai enam orang sejak aku datang.
Seseorang di seberangku sudah menghabiskan lagi sepiring donat dan secangkir cokelat panas.
Tapi mana sih si bocah ini?

Kesal, aku akhirnya membereskan laptop dan charger ku.

"Terima kasih!" seru pegawai di balik meja kasir.
Terima kasih Tuhan akhirnya perempuan ini pulang, mungkin itu pikirnya.

Begitu aku tiba di parkiran, ternyata orang yang kutunggu-tunggu baru saja menyerahkan uang seribu rupiah pada tukang parkir.
Aku naik ke boncengannya, kemudian kukatakan padanya dengan pedas.

"Pulang, sekarang."

Bocah ini hanya diam.
Tanpa banyak bicara, dia tancap gas.
Mengantarku pulang.

23 Sep 2014

Angka 32 terpampang jelas di kolom "Temperature" di fitur cuaca ponselku.
Untungnya, aku berada di dalam kafe, nyaman duduk di bangku kayu dengan pendingin ruangan, ditemani carrot cake dan sebotol air mineral dingin.
Aku tidak sendirian di lantai dua kafe ini. Selain pegawainya (yang sepertinya sedang membuat jus dan menyeduh espresso), ada juga segerombolan gadis-gadis SMA, dua orang wanita yang sedang mengobrol, seorang wanita yang sendirian menggunakan headset, dan seorang pria berkacamata berkemeja necis yang sedang membaca novel (atau buku apapun, yang jelas bukunya tebal).
Waktu menunjukkan pukul 16.35, sudah hampir satu setengah jam aku disini. Mengetik sesuatu, sesuatu apapun yang membuatku lupa sedang menunggu.
Kami janjian jam 16.00, tiga puluh menit yang lalu, tapi bocah itu belum kelihatan batang hidungnya.
Aku meneguk si air di botol sambil menghembuskan napas panjang, karena lelah menunggu, dan lelah oleh bau yang dikeluarkan oleh rokok dua perempuan yang sedang mengobrol itu.
Pukul 17.00 tepat, ponselku berbunyi. Pesan singkat rupanya.

"Dimana?"

Hanya satu kata itu yang terlihat, dan aku mengambil asumsi dia sudah berada di kafe ini. Mungkin sedang memesan makanan di bawah, atau malah baru sampai di tempat parkir.

"Lantai 2."

Aku membalas singkat. Kesal. Terkadang teknologi membuat dia menggampangkan sesuatu. Kalau saja tidak ada teknologi bernama ponsel ini, dia pasti datang tepat waktu supaya tidak usah repot-repot mencariku dan menanyakan aku dimana.

"Hei."
Seseorang menepuk bahuku pelan.
Aku merengut.
Datang juga lelaki berbaju abu-abu ini. Ada sedikit bekas kebasahan, padahal tidak hujan.

"Kesiram tukang cuci mobil," katanya meringis.

Pelayan datang membawakan klapertaart kelapa, segelas besar orange juice, dan segelas besar yogurt blueberry. Seingatku, lelaki ini tidak pernah suka yogurt.

"Buatmu," katanya.
Giliran aku yang meringis, senang. Walaupun dia telah dikalahkan teknologi, aku malah dikalahkan biakan mikrobakteri dalam susu basi.





-Mooi Kitchen-

9 Nov 2012

Fiksi Pertama di Bulan November



Monte Cassino Aster - google.com


Toko Buku "Monte Cassino"
Pukul 12.00


Terlihat dua orang, lelaki dan perempuan duduk dibelakang meja kasir – pemilik toko sepertinya. Keduanya mengenakan apron biru tua bertuliskan "Monte Cassino" dengan sedikit aplikasi gambar bunga-bunga putih – sesuai dengan namanya.
Yang lelaki sedang sibuk membaca sebuah buku, The Catcher in the Rye, terpampang judul dengan huruf kuning dengan sampul buku berwarna merah manyala, yang perempuan juga sibuk, memperhatikan yang lelaki, sambil tertawa pelan-pelan, lucu memandangi lelaki itu tampak serius.
Si perempuan yang benar-benar tidak dapat tertawa pelan-pelan lagi, akhirnya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi lengan baju si lelaki. Si lelaki mendelik, kemudian menggerutu tidak jelas – sambil membetulkan lengan bajunya yang merosot – yang malah membuat si perempuan tertawa sangat geli.
Tapi, lelaki ini memang harusnya selalu tampak serius, walaupun mukanya tampak jenaka. Dia seorang agen rahasia. Charles namanya, Agen Charles adalah nama dalam kartu pengenalnya. Yang perempuan ini istrinya, namanya Nadine.
"Ting, ting," itu tanda ada yang datang, pintu masuk toko buku Monte Cassino ini dipasangi lonceng di atasnya. Baik Charles maupun Nadine, keduanya refleks memandang pintu, berdebar. Hari ini, rencananya seseorang yang sudah Charles tunggu selama tiga setengah tahun akan datang, seorang bandar obat-obatan terlarang yang jaringannya sudah meluas sampai ke separuh bola dunia. Agen Charles sudah memanipulasi data diri sendiri, menyamarkan segala sesuatunya – kecuali istrinya, Agen Charles berjanji pada dirinya sendiri agar hanya dia yang akan melindungi istrinya – untuk memancing sang pimpinan bandar narkotika untuk bisa ditemui.
Sebuah sosok sepatu pantofel hitam adalah yang pertama kali terlihat di ujung pintu. Kemudia sebuah lengan berbalut jas hitam dengan jam tangan berwarna keperakan di handle pintu. Kemudian tampak sebuah kepala yang sangat dikenali, baik oleh Charles maupun oleh Nadine.
Rupanya Agen Julian.
Charles hampir saja melempar Julian dengan pot kaktus – pot kaktus kesayangan Nadine, karena membuatnya benar-benar berdebar-debar. Lagi-lagi, Nadine tertawa geli melihat ekspresi Charles. Sangat, sangat lucu.
Julian – atau Agen Julian dalam kartu pengenalnya – dari segi wajah dan sifat merupakan sangat kebalikan dari Charles. Wajahnya serius dan misterius. Tidak banyak bicara dan elegan, selalu berhati-hati dalam pengintaian. Selalu siap meng-cover Agen Charles ketika penyamaran mereka sebagai tukang ledeng Pusat Maritim Negara hampir terbongkar. Sepertinya kali ini Julian agak was-was dan cemas juga, mengingat lawan kali ini bukanlah sekedar menteri korupsi atau penyelundup terumbu karang langka, melainkan seorang bos obat-obatan terlarang dengan jaringan setengah dunia.
“Bagaimana?” sepatah pertanyaan dari Julian, sepotong kata yang menuntut banyak jawaban.
“Oke,” hanya itu jawaban dari Charles, sambil masih membaca The Catcher in the Rye. Nadine menggembungkan pipinya, menahan tawa, dia yakin Julian akan kesal sekali dengan jawaban yang seadanya. Hidup Nadine yang seharusnya penuh debaran karena hidup dengan seorang agen yang harusnya penuh rahasia yang mesti dirahasiakan, seakan menjadi penuh lelucon karena sifat dan ekspresi Charles yang polos. Julian mendelik ke arah Nadine, yang seakan mengerti, lalu permisi ke belakang, untuk menyiapkan teh dan kue.
“Bagaimana?” tanya Julian, lagi. Kali ini dengan penuh penekanan, tatapan yang mengintimidasi, dan suara yang lebih direndahkan.
Charles menghela napas, merasa bacaannya terganggu. “Semua oke, agen Julian, bos narkotika sudah akan datang, mungkin sore atau…….. masuklah ke belakang, agen Julian, tolong jaga Nadine,” tiba-tiba Charles mendengar suara halus mobil terparkir di depan tokonya.


Dapur di rumah Agen Charles, tepat dibalik pintu belakang Toko Buku “Monte Cassino”
Pukul 13.45

“Begitu,” singkat agen Julian.
“Silakan diminum dulu, agen Julian,” ujar Nadine, setenang mungkin, namun menuangkan teh dari teko porselen dengan tangan gemetar.
Agen Julian baru saja menceritakan bagaimana agen Charles bisa memancing sang bos narkotika, mengapa harus di toko buku miliknya sendiri – agar tidak mencurigakan, dan seberapa berbahayanya bos Don Leo ini dalam dunia perdagangan obat. Cerita agen Julian yang tegas dan tidak bertele-tele tentu membuat hati seorang perempuan – yang suaminya ternyata menghadapi bahaya yang sangat-sangat mengkhawatirkan, tidak seperti  yang digambarkan suaminya sebelumnya dengan muka jenaka – menjadi kalut dan takut.
Charles mengajukan diri menjadi umpan, karena ekspresinya yang sulit ditebak dan jarang terekspos publik, sekaligus membalaskan dendam pribadinya akan fitnah hukuman penjara seumur hidup terhadap Ayahnya – yang merupakan komandan tim investigasi – kepada Don Leo.. Julian sempat merelakan diri menjadi umpan, namun Charles menyanggah, Julian sudah terlalu terkenal di kancah agen-agen rahasia dan penjahat-penjahat, mafia-mafia, dan pedagang gelap-pedagang gelap. Julian terkenal membahayakan.
“Biar, aku tuang sendiri,” tangan Julian menepis tangan Nadine, menggenggam teko, tanpa gemetar seperti Nadine tadi. “Tenang saja,” katanya sambil menghirup teh, “Charles bukan orang yang lemah, sama sekali bukan.”
Nadine diam saja, menggoyang-goyangkan sendok ke dalam mangkuk gula, memandangi jam dinding, dengan pandangan kosong. Julian jadi memandangi Nadine, pelan-pelan menepuk kepalanya. Terakhir kali Julian menepuk kepala Nadine, tujuh tahun yang lalu…
“BRAK!” suara keras dari depan. Julian maupun Nadine terperanjat, sebelum sempat dicegah, Nadine berlari menuju pintu, ke dalam toko.
“Nadine!” seru Julian, ingin berlari menarik Nadine untuk mundur, tidak ikut campur, tetapi tidak mungkin Julian menampakan diri selagi masih ada kelompok Don Leo disana.


 Toko Buku "Monte Cassino"
Pukul 14.45

“Jangan nangis, jangan nangis Nadine,”  Charles panik menenangkan Nadine, yang duduk sesenggukan di lantai toko buku. “Julian! JULIAN!” teriak Charles.
Pintu belakang terbuka sedikit. Tampak mata tajam Julian dibalik pintu. Setelah memastikan segalanya aman – toko kosong, rak buku dekat jendela jatuh – Julian keluar menghampiri Charles.
“Aku bilang jaga Nadine!” seru Charles.
“Tapi… dimana…?” Julian kebingungan.
“Aku bilang, jaga Nadine,” kali ini Charles menggeram.
Julian terdiam. Tidak ada gunanya mendebat segala macam hal pada Charles. Apabila saat ini Charles dibantah, hal itu hanya akan membuatnya tambah meledak-ledak. Julian menghela napas panjang.
“Maaf,” katanya datar.
“Maaf,” dengus Charles, sambil menuntun Nadine berdiri.
Sekali lagi Julian menghela napas panjang. “Jadi?”
“Ya, tadi komplotan Don Leo datang,” kata Charles sambil mengelus kepala Nadine, “…tanpa Don Leo,” lanjutnya. “Mereka hanya bilang, ‘Besok, pukul tiga siang’ – aduh!” tangan Charles tidak sengaja ‘mengelus’ kaktus. Julian berdeham.
“Besok Don Leo datang?” tanya Julian.
Charles terdiam sesaat. Ragu, kelihatannya.
“Aku bilang, tidak akan memberikan uangnya kalau Don Leo tidak datang,” kata Charles akhirnya sambil mengangkat bahu.
“Lalu?”
“…sepertinya di balik jas mereka, ada pistol…” Charles berhenti sebentar, “Dan yang paling besar tadi, hampir menghajarku, mungkin menganggapku lancang karena ingin bertemu Don Leo,” lanjut Charles lambat-lambat berkata, sambil melirik Nadine, takut Nadine ketakutan.
Julian tidak peduli. “Lalu?”
“Untungnya, aku bisa menahannya…” kata Julian, “… dan untungnya, lagi… sepertinya Don Leo cukup mempercayai aku, aku minta dihubungi ke Don Leo, dan oke, setelah cukup bercakap, dia akan datang besok.”
“Lantas, suara tadi…”
“Ah.”
“Ah, apa?” tanya Julian.
“Maaf, tadi aku yang tidak sengaja menendang rak buku…”
Julian membatu.
“Jadi,” Julian tidak sanggup berkata-kata. “Kamu, Agen Charles yang hebat, memarahiku karena AKU TIDAK MELINDUNGI NADINE dari TENDANGAN TIDAK SENGAJA pada display rak buku?”
"Bagaimana kalau tadi masih ada komplotan Don Leo, HAH!"
Sepertinya akan terjadi sebuah perdebatan panjang yang tidak penting – yang sudah biasa disimak Nadine – antara Charles dan Julian. Mereka memang begitu, sejak bertahun-tahun yang silam.
Nadine berhenti terisak, ujung bibirnya terdapat senyuman simpul, namun tetap tidak berhenti berbisik, “Syukurlah… syukurlah… Hati-hati, Charles… Hati-hati…”


***

ini bersambung dulu mungkin.
atau selesai saja sampai disana?

14 Okt 2012

Fictional love letter - in a flowery way.

Uhm, a fiction about boy named Robin, missed her girl named Lavender, sending a letter.

*

Dear Lavender,


I only can see the lavender in my garden,
not in my eyes.

I only can feel the lavender by my hand,
not by my heart.

I only can water my lavender with the water,
not with my love.

I can sing to my lavender,
but they didn't hear.

Come, come to my garden.
I don't want lavender in my garden, I want Lavender in my garden.


Your 2000 miles away,
Robin.

6 Okt 2012

Orang yang Bercengkerama Bersama Huruf dari Kertas-Kertas yang Hitam dan yang Putih

Sikunya tegas menyentuh meja, merasakan material kayu lewat ujung-ujung syaraf kulitnya.

Rambutnya hitam, pendek, menjuntai kebawah, searah gravitasi, karena kepalanya menunduk. Tentu saja.

Jika matanya adalah pisau, tentu akan robek semua semua kertas di meja, dengan dalam tajam memandang, apa apa yang sedang dia kerjakan.

Jemarinya, ya. Dengan gunting, dan kertas-kertas itu. Yang hitam dan yang putih. Lihai, halus, dan telaten.

Mulutnya sederhana saja, sunyi dalam diam. Yakin, otaknya yang lebih banyak berkata-kata.

Dia duduk saja. Dikursi yang dibuat dengan bahan yang sama dengan meja kokoh yang dibuat dari pohon entah dari hutan mana itu.

Lihai, jemarinya, mulai menggunting.

Huruf rupanya.

Dari kertas-kertas yang tadi, yang dipandangnya dengan tajam, yang berwarna hitam dan putih.

Dia membentuk huruf.

Banyak huruf. Banyak sekali huruf.

"Aku bermain huruf untuk merangkai kata," begitu ucapnya, ketika aku bertanya sedang apa.

26 Sep 2012

Dreams.

Ini adalah fiksi tentang mimpi.
Dimana angan-angan adalah suatu batas yang tidak pasti.
Dimana kamu akan dihadang imajinasi.
Kamu tidak akan takut dan berlari,
aku yakin pasti,
kamu pasti menghampiri.
Ini hanya mimpi.
Sebuah fiksi tentang mimpi.

*

Aku terhentak.
Aku berdiri, sendiri, ditengah ruangan besar tanpa garis horizon.

Ini tidurku.

Lalu aku menyusuri jalan dalam diam.
Putih.

Ini tidurku.

Putih, dimana-mana putih.
Lantai marmer yang entah mengapa terasa di kakiku, dingin.

Ini tidurku.

Aku mau terus kemana?
Ruangan ini tanpa batas.
Aku memang tidak letih, tapi aku tidak mau berjalan lebih jauh dari ini.

Ini tidurku.

Aku mendengar senandung lagu.

Ini tidurku.

Apa aku harus berlari?
Menjauhkah? Mendekatkah?

Ini tidurku.

Aku mencapai sebuah tembok.
Tembok yang sebelumnya tidak pernah terlihat dari sudut pandang lelapku.
Aku berhenti.
Aku harus berhenti.
Tentu saja.

Ini tidurku.

Aku mulai berjalan menyusuri tembok.
Terus, terus sampai jauh.

Ini tidurku.

Hei.
Ada orang disana.

Ini tidurku.

Lelaki.
Seorang lelaki bertengger di tembok.
Duduk di jendela besar yang tertanam di tembok.
Tangannya memetik gitar, dan dari mulutnya terdengar suara berirama.
Dia bernyanyi rupanya.

Ini tidurku.

Dia menoleh.
Tangannya berhenti memetik gitar.
Mulutnya berhenti bersenandung.
Dari sudut bibirnya muncul seulas senyum.
"Hei," begitu katanya, ketika aku diam-diam memandanginya.

Ini tidurku.
Dan aku tidak mau bangun dari mimpi.


Lelaki ini, melewati batas imajinasi yang kubentuk sendiri.

25 Sep 2012

Cerita yang Tidak Akan Pernah Selesai - Seperempat Latihan Menulis, Tigaperempat Iseng.

Siska.
"MAHA!" teriakan itu menggema di ruang kuliah B3, lantai kedua gedung Sutjipto Mangunharjo, tempat para mahasiswa-mahasiswi menangani masalah gigi anak-anak kecil, gedung kedokteran gigi anak.
Mahardika, si empunya nama, menoleh, sedikit malu, ke sumber suara.
Gigi.
Regina.
Regina Kamelia.
Anak kelas sebelah ini, sahabat baik Mahardika, sejak SMP kalau tidak salah.
"Bruk!" sebuah tas kulit berwarna cokelat mendarat dengan cantik di pangkuan Maha.
"Kenapa, Gi?" tanya Maha, dengan suaranya yang pelan, seperti biasa.
"Aku titip dong Ma, hehehe, nanti tolong anterin ke kos aku ya Ma.."
"Kamu kok sembarang... hey! Hey mau kemana Gi?"
Gigi sudah melesat bagaikan anak panah, lincah menuju sasaran, yang entah apa.
Mahardika mendengus, tapi tanpa ditahan menyimpulkan seulas senyum, tidak bisa tertahan.
"Hei, Dika!" seorang perempuan – satu dari seratus sebelas orang mahasiswi di angkatannya – menepuk bahu Mahardika. Buru-buru disimpannya senyuman kecil itu. Cukup dia saja yang tahu. "Sedang apa sih? Hm...?" Pertanyaan Siska berhenti ketika melihat sebuah tas, bukan milik Mahardika tentu.
"Oh," gumam Mahardika seolah mengerti, "ini, punya Gigi... err, Regina."
"Ah," Siska, paham. Tentu saja, Regina.
"Ada apa, Ka?" tanya Mahardika.
"Anu, aku mau minta modul praktikum prosto. Masih ada, kan?"

*

Angger.
Siska melamun. Setidaknya itu yang diperhatikan Angger, walau hanya dari kejauhan. Pandangan matanya kosong, tangannya menggoyang-goyangkan pulpen, untaian rambut keluar dari ikatan, mulutnya seperti menyenandungkan sesuatu, hanya saja tanpa suara.
"Angger, ayo bareng pulangnya," Mahardika, salah satu teman laki-laki, yang terbilang jarang di kampus ini, yang paling pendiam, menyenggol punggungnya.
"Eh, ya, ayo," Angger beranjak dari kursinya, menoleh terakhir kalinya ke kursi Siska, yang dari sudut matanya menangkap bayangan Mahardika.

*

Mahardika.
Sudah pukul empat sore. Gigi memang begini, kebiasaan, sulit sekali balas sms. Mahardika menunggu Gigi didepan rumah kosannya. Pagar hitam menjulang itu digembok, sepi. Mahardika menunggu dengan santai diatas motor merahnya.
Sudah satu jam.
Diambilnya buku sketsa dari dalam tasnya, hobi Mahardika yang tidak pernah bisa ditinggalkan. Matematika.
Sementara otaknya memanas karena soal matematika dasar yang sulit dipecahkannya, langit semakin oranye karena senja.
"Aku pergi lagi ya, Ngger" ucap Mahardika tadi.
"Lho, kamu mau pergi? Aku pikir ada apa kamu ajak aku pulang," Angger heran, setengah kesal juga, padahal kalau Mahardika tidak mengajak dia pulang, dia ingin menghampiri Siska, setidaknya berusaha menghapus mendung di matanya.
Entah elakan apa lagi yang Mahardika lontarkan, sampai akhirnya Angger hanya tidur-tiduran dikosannya, raut wajahnya agak cemas dan memikirkan sesuatu, hanya masalah waktu sampai Mahardika tahu bahwa Angger menghawatirkan Siska.
"Kamu mau ngapain sih Dik?" tanya Angger penuh tanda tanya.
Mahardika menghela napas. Ia juga tidak tahu sedang apa dia disini.

*

Regina.
"ASTAGA! MAHARDIKA!" Gigi melonjak terkejut, Maya dan Desi ikut terkejut. Kemudian mereka berdua tersenyum penuh arti.
"Kenapa Mahardika, Gin?" goda Desi.
"Aku titipin tas aku di dia lho!" ujar Gigi penuh sesal.
"Hah? Gimana ceritanya sih Gin?" Maya dan Desi kebingungan, sementara Gigi sudah keluar dari foodcourt,  mencegat taksi dan pulang ke kosan. Berharap Mahardika tidak menunggunya, atau dia akan merasa sangat bersalah.

Dan, pesan-pesan ini terkirim di malam itu.
From: Angger
To: Siska
Message: Siska bsk jgn lupa makalah Radiologi Dental ya.
Batin Angger bersyukur bahwa dia ditempatkan satu kelompok dengan Siska, menunggu semoga SMS basa basi itu bisa menjadi pembuka yang baik.
From: Siska
To: Mahardika
Message: Dika, makalah radiologi final ada di kamu ya? di print ya. :)
"Drrrt," ponsel Siska bergetar. Berharap mendapat balasan dari Mahardika, menunggu semoga SMS basa basi itu bisa menjadi pembuka yang baik. Angger. Siska mendengus, bukan Angger yang ia tunggu.
From: Mahardika
To: Regina
Message: Gigi cpt pulang jgn kelamaan diluar, dingin, nanti sakit.
Message delivered. Sudah empat jam sejak pukul empat sore. Mahardika memilih untuk tidak pulang.
From: Regina
To: Mahardika
Message: Kamu dimana Maha?
Battery to low for radio use. Sinyal hilang, khawatir Regina mulai muncul.

Keesokan harinya, Mahardika tidak muncul karena flu, Siska yang bad mood sekaligus khawatir karena Angger yang datang dengan makalah yang seharusnya diberikan oleh Mahardika, Angger yang sedikit cemburu - ketika Siska menanyakan kabar Mahardika, dan Regina, yang bolak-balik apotek naik sepeda, mencari obat flu yang paling mujarab untuk menyembuhkan Mahardika.

Keesokan harinya lagi, Regina penuh luka gores karena jatuh dari sepeda. Kemarin hari pertama Regina bisa naik sepeda, ia dedikasikan untuk Mahardika yang terbaring flu dan demam ditemani nyamuk-nyamuk penghuni kamar.

13 Jan 2012

The Architect




It was a rainy afternoon.
And a thin fog covered that silent, old city. The old, stone made bookstore, the smell of coffee from the cafe behind her, and the raindrops on the flower in the florist beside the cafe. She knew it was raining, but she left her apartment and stood there. Under the rain. With her old blue umbrella. She always stand there when it's 5 pm.
The black suited man, in a coat, also use an umbrella, suddenly appeared. A suitcase in another hand, and the sketch book in his arm. He just passed her by. Without looking.
She never see this man before, but she's not interested. And she enjoys the rain again.

It was a bright afternoon.
A sun almost set in the end of the road, the birds' chirp, and again, the smell of coffee from the cafe behind her. The afternoon sunshine shone in the flowers in florist. She was standing there, whistling the old song she loves. It is almost 5.30 pm, and she watched the sun began to fall down.
That black suited man from yesterdays, still holding a suitcase, and a sketch book. Again he just passed her by. Without looking. She's just curious. Not with that man. But with his sketchbook. And, she enjoys whistling her lovely old song again.

It was a cloudy afternoon.
She's back standing there, in front of coffee cafe, bookstore, and the florist. She's just standing there biting her sour, green apple she got from the florist girl.
That black suited man. And now he's walking and 'reading' his sketch book at the same time. Ignoring the woman who slowly stop her biting on apple. Just passed by, and again, disappear in the down of the road. She has decided. She will talk to him the next meeting.

It was a heavy rain stroke the afternoon.
She's now wearing raincoat, with a candy in her mouth. She can't smell the coffee's aroma, she just can smell the water.
He didn't pass through like the last days.
She waited until it was 6, and no, he didn't come.

It was a drizzling afternoon.
Again, in the front of cafe, she was standing. Feeling nervous for a reason. She found a sketch book. Lied on the ground, the place she stand every day, enjoying the afternoon. She took that sketch book, didn't have any courage to open it, just embraced it with her arms. And standing there. Not like the usual, she's standing quietly, without any move, protecting the sketch book from the tiny-little rain pouring in that bright afternoon.
A drizzle in the bright afternoon.
She waited the man with the black suit come to look over his sketch book.
It was 7 pm.
The drizzle has stopped. The lamps are turned on, the florist has closed, the bookstore become lonelier, but the cafe became more busy. Some lovely couples would like to have a cup or two, to accompany their romantic laughter.
She waited the man with the black suit, still hoping he would come to look over his sketch book.

It was the 6th afternoon since she found the sketch book.
He never come back.
This afternoon, she didn't go out. She was in her apartment, admiring the sketch drawn in the sketch book. She finally have courage to open it.
Buildings. A lot of building.
Parks. Bridges. Roads. Shops. Cafe. Florist. Bookstores.
She admired it, page by page, and come to the last page.
It was her.
With a note in the below page.
"You may not know me. But I know you. Let me show you the world you have left, an art of architecture. Follow your dream, you know what you want"
And she cried, the depressed architecture student, who left the college 3 months ago.







note:
I don't know much about architecture :p
Just wanna write, filling the spare time, and practicing English.
I wanna post the illustration! Wait =)
I'm not a good writer :p

4 Jan 2012

Intermezzo

Siang ini gerimis lagi. Seperti siang tiga minggu kemarin. Argas duduk di teras rumahnya. Puluhan warna bunga-bunga yang bermekaran dengan kilauan air memang terlihat menyejukkan. Segelas cokelat hangat menantang hawa dingin yang menyergap tubuh. Ingin rasanya berdiri di taman dan berkebun, menyiangi rumput-rumput liar yang mulai rimbun, dan memberi pupuk pada bunga-bunga yang kelaparan itu.

Siang ini gerimis lagi. Seperti siang tiga minggu kemarin. Bunda Argas datang membawa sweater, majalah untuk dibaca, dan setoples kue kering. Diletakkannya semua di meja, dan diberikannya sweater itu kepada Argas.
“Begini saja sudah cukup, Bunda. Sudah cukup hangat,” Argas merapatkan jaketnya, “sudah tidak perlu sweater.”
Bunda bersikeras.
“Iya, nanti aku pakai, Bun…” Argas akhirnya menyerah menerimanya. Bunda Argas tersenyum dan masuk ke dalam rumah lagi. Menatap Argas dengan penuh kasih sayang.

Siang ini gerimis lagi. Seperti siang tiga minggu kemarin. Pemandangan pegunungan yang indah dari teras rumah Argas tidak terlihat, sekarang tertutup kabut. Biasanya, siang begini terlihat deretan pinus diseberang bukit, batu-batu yang kokoh dan tegar memagari jurang, dan air terjun yang mengintip disela gelapnya hutan. Argas selalu menikmati pemandangan itu, sejak dulu, sejak dia kecil, sebelum dia melanjutkan sekolah di kota besar. Harum alam selalu membawa nostalgia kedalam memori terdalamnya.

Siang ini gerimis lagi. Seperti siang tiga minggu kemarin. Masih tidak beranjak dari tempat kesayangannya, kursi rotan dengan bantal-bantal di teras menghadap kebun bunga. Tulang punggungnya patah, Argas tidak bisa beranjak kemanapun, maka duduklah ia di tempat favoritnya, ketika tidak bisa kemana-mana bukanlah suatu masalah. Kebenciannya yang lagi-lagi meluap. Perenggut kaki kekasihnya, seorang pelari, yang dengan segala mimpinya untuk berlaga di olimpiade, kandas. Kecelakaan itu.

Siang ini gerimis lagi. Seperti siang tiga minggu kemarin. Masih teringat air mata Nala, yang lebih deras dari gerimis ini, dan lebih hening dari lembah ini, ketika tahu kakinya lumpuh. Rengkuhan Argas yang tidak terbalas, dan luka yang tidak akan sembuh. Mulut yang kelu, dan mata yang sendu. Kelebat memori yang merayu, membuat Argas hampir tidak mampu membendung air matanya.

Gerimis mulai mereda, namun justru ada yang mengalir deras di pipi Argas, ketika melihat sesosok wanita berkursi roda, dengan payung di tangan seorang lelaki kekar, Ayah wanita itu, tersenyum ke arah Argas. Seketika dia berteriak kepada Bundanya untuk dibukakan pintu pagar. Gerimis mulai mereda, seperti di siang tiga minggu kemarin.